Jakarta, CNN Indonesia --
Banyak orang melewatkan sahur saat puasa Ramadan demi bisa menurunkan berat badan. Tapi, bagaimana sebenarnya Islam memandang orang yang berpuasa tanpa sahur?
Sahur merupakan kegiatan makan dan mengisi energi tubuh pada dini hari saat puasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk makan sahur saat akan berpuasa. Sahur dilakukan untuk menambah energi dalam berpuasa seharian.
Pada dasarnya, mengutip laman Baznas, sahur sendiri merupakan salah satu amalan sunah dalam ibadah puasa. Anjuran untuk sahur tertera dalam hadis berikut:
"Makan sahur lah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan." (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis di atas menggambarkan bahwa sahur sebenarnya bukan syarat sah puasa, melainkan ibadah yang membawa banyak keberkahan.
Ilustrasi. Banyak alasan yang membuat seseorang melewatkan sahur. (iStockphoto/Tirachard)
Sayangnya, beberapa alasan membuat seseorang tidak melakukan sahur. Ada yang sengaja karena ingin menurunkan berat badan. Ada juga yang terlewat karena bangun kesiangan.
Lantas, bagaimana puasa orang yang tidak sahur?
Puasa tanpa sahur memiliki ketetapan hukum tetap sah selama niat telah dibacakan sebelum fajar. Pasalnya, sahur bukan syarat wajib puasa.
Namun, meninggalkan sahur berarti kehilangan banyak berkah yang dijanjikan dalam hadis Rasulullah SAW.
Tak hanya berkah, sahur juga memberikan banyak hikmah. Salah satunya untuk menjaga kekuatan fisik selama berpuasa.
"Hikmah disunahkan makan sahur adalah untuk menguatkan fisik bagi orang yang hendak menjalankan puasa," ujar Ustaz Abdul Kadir Jailani, mengutip NU Online.
Umat Islam dianjurkan melakukan sahur dimulai dari pertengahan malam hingga memasuki fajar. Untuk mempertahankan rasa kenyang, umat Islam disarankan makan sahur tak terlalu jauh dari waktu Subuh. Misalnya, pukul 03.30 WIB dini hari.
(asr/asr)