Trump Klaim Teheran Mau Negosiasi usai 500 Orang Tewas di Demo Iran

4 hours ago 9

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim Iran ingin bernegosiasi setelah sebanyak 500 demonstran tewas akibat penindakan aparat di negara tersebut, pada Minggu (11/1).

"Para pemimpin Iran menelpon (kemarin)," kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One, seperti dikutip AFP.

"Sebuah pertemuan sedang diatur. Mereka ingin bernegosiasi," tambah dia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, Trump menegaskan bahwa mereka mungkin harus bertindak sebelum pertemuan tersebut.

Pusat Hak Asasi Manusia di Iran (Center for Human Rights in Iran/CHRI) yang berbasis di AS mengatakan menerima laporan tentang "ratusan demonstran" yang tewas di seluruh Iran sejak pembatasan internet diberlakukan.

"Sebuah pembantaian sedang berlangsung," kata lembaga tersebut.

Sementara itu, LSM Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia mengatakan tindakan keras otoritas Iran telah menyebabkan sedikitnya 192 orang tewas.

"Laporan yang belum diverifikasi menunjukkan sedikitnya beberapa ratus orang, dan menurut sejumlah sumber bahkan lebih dari 2.000 orang, mungkin telah tewas," ujar IHR.

IHR juga mengatakan telah menangkap lebih dari 2.600 demonstran atas aksi tersebut.

Meski terjadi pemutusan internet selama beberapa hari, informasi tetap keluar dari Iran. Video dari Teheran dan kota-kota lain dalam tiga malam terakhir memperlihatkan aksi berskala besar.

Salah satu video yang banyak dibagikan menunjukkan massa kembali berkumpul di distrik Pounak, Teheran, sambil meneriakkan dukungan terhadap monarki yang telah digulingkan.

Selain itu, terdapat sebuah video yang beredar memperlihatkan puluhan jenazah tergeletak di luar kamar jenazah di Teheran selatan.

Rekaman yang dilacak oleh AFP, menunjukkan jenazah yang dibungkus kantong hitam, dengan sejumlah orang yang diduga keluarga korban terlihat mencari anggota keluarga mereka.

Di hari yang sama, pemerintah Iran menetapkan tiga hari berkabung nasional bagi para "syuhada", termasuk personel keamanan yang tewas.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga mengajak warga mengikuti "pawai perlawanan nasional" pada Senin untuk mengecam kekerasan.

Selama dua pekan, Iran dilanda gelombang protes yang terus membesar meski kelompok HAM memperingatkan bahwa penindakan aparat telah berubah menjadi "pembantaian".

Demonstrasi yang bermula dari kemarahan atas kenaikan biaya hidup itu kini berkembang menjadi tantangan besar terhadap sistem teokrasi yang berkuasa sejak revolusi 1979.

Gelombang protes ini menjadi salah satu tantangan paling serius bagi kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (86), menyusul perang 12 hari Israel melawan Republik Islam pada Juni lalu yang didukung AS.

Sementara itu, putra shah terakhir Iran yang ditinggal di AS dan menjadi simbol oposisi, Reza Pahlavi, mengatakan dirinya siap kembali ke Iran untuk memimpin transisi demokrasi.

"Saya sudah menyiapkannya," ujarnya kepada Fox News.

Ia juga menyerukan aparat keamanan dan pegawai pemerintah untuk berpihak pada demonstran.

"Pegawai negara dan anggota aparat keamanan memiliki pilihan: berdiri bersama rakyat atau bersekutu dengan pembunuh rakyat," tulisnya di media sosial.

"Saatnya bendera-bendera itu diganti dengan bendera nasional Iran," katanya meminta para demonstran untuk mengganti bendera di luar kedutaan Iran.

Bendera pra-revolusi kini menjadi simbol utama aksi solidaritas global bagi demonstran Iran.

(rnp/bac)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Entertainment |