Wanti-wanti Noel: Para Bandit Lepas Anjing Liar untuk Gigit Purbaya

2 hours ago 5
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Eks Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamemaker) Immanuel Ebenezer alias Noel Ebenezer melontarkan beberapa klaim kontroversial di sela lanjutan sidang kasus pemerasan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Kemnaker.

Persidangan tersebut dilaksanakan dengan agenda pemeriksaan saksi di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Senin (26/1). Berikut deret pernyataan kontroversial bekas Ketua relawan Jokowi mania tersebut:

Partai huruf 'K' 

Jelang sidang Noel sempat menuding ada ormas dan partai yang terlibat dalam kasus pemerasan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Kemnaker. Noel mulanya mengungkap ormas yang terlibat bukanlah ormas yang berbasis agama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ormasnya dulu lah ya, ormasnya yang jelas tidak berbasis agama," ungkap Noel.

Kemudian Noel memberikan kisi-kisi dengan mengatakan ada huruf 'K' dalam partai yang dimaksud terlibat di kasusnya.

"Partainya ada huruf K nya. Udah itu dulu clue nya ya," ungkapnya.

Namun, Noel belum mau mengungkap secara detailnya lebih lanjut. Ia hanya mengatakan ada aliran uang ke ormas dan partai yang dimaksud.

"Alirannya bukan terlibatnya, alirannya," ungkapnya.

Purbaya akan 'di-Noel-kan'

Noel mengklaim memperoleh informasi A1 bahwa Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa akan "di-Noel-kan". Istilah tersebut merujuk pada penangkapan Noel oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menurutnya penuh dengan rekayasa.

"Modusnya hampir sama semua. Hati-hati, Pak Purbaya. Sejengkal lagi nih. Saya dapat informasi A1, Pak Purbaya akan di-'Noel'-kan," kata Noel kepada wartawan.

Noel mengibaratkan siapapun yang mengganggu 'pesta' para bandit akan digigit oleh 'anjing liar'. Namun tak mengungkap dengan detail hal yang dimaksud.

"Siapapun yang mengganggu pesta para bandit-bandit ini, mereka akan melepaskan anjing liar untuk gigit Pak Purbaya. Kasihan Pak Purbaya. Ada pesta yang terganggu. Kasihan Pak Purbaya. Ada pesta yang terganggu," ujarnya.

Purbaya sementara itu di tempat terpisah menyatakan tidak peduli dengan apa yang diomongkan oleh Noel

"Saya sih rasanya enggak ada urusan, saya hanya tanggung jawab ke presiden. Yang lain saya nggak peduli." ujar Purbaya usai menghadiri Sidang Terbuka Satgas Debottlenecking di Jakarta, Senin (26/1). 

Purbaya sendiri mengaku tidak memahami maksud pernyataan Noel.

"Saya nggak ngerti apa sih maksudnya?" ucap Purbaya.

Saat ditanya kemungkinan dijadikan tersangka seperti Noel, Purbaya menegaskan perbedaan mendasar di antara keduanya.

"Noel kan terima (duit), kan gue enggak terima duit. Gaji gue gede di sini, cukup," katanya.

Purbaya menepis anggapan bahwa kebijakan reformasi pajak dan bea cukai yang ia jalankan mengganggu kepentingan kelompok tertentu. Menurutnya, selama ia tidak menerima uang di luar gaji resmi, posisinya aman.

"Biar aja, kita kan tetap aja akan dengan reformasi. Noel, Noel, saya, saya. Yang penting kan saya enggak terima uang," ujarnya.

Ia menilai risiko hukum baru muncul jika seorang pejabat mulai menerima uang di luar ketentuan.

"Begitu kita terima uang, saya terima uang, saya akan amat riskan posisinya. Enggak bisa gerak ke sana, ke sini, pecat orang nggak bisa, geser orang nggak bisa. Karena orang akan laporkan bahwa saya terima uang dan akan dibocorkan. Jadi, selama kita ya gitu-gitu aja bersih lah, kira-kira lurus.," kata Purbaya.

OTT, operasi tipu-tipu

Noel mengistilahkan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan KPK sebagai 'operasi tipu-tipu'.

"Jadi ya sidak-sidak yang selama ini saya lakukan ya dinarasikan bahwa saya memeras pengusaha. Yang paling mudah ya gunakanlah diksi OTT. Operasi Tipu-Tipu. OTT itu Operasi Tipu-Tipu," ujarnya.

Kemudian Noel juga menuding OTT yang dilakukan KPK ini tidak sesuai dengan definisi di hukum yang berlaku.

"Kenapa saya berani menyampaikan ini? Karena definisi OTT dalam KUHAP lama dan KUHAP baru, ya tidak seperti yang selama ini dilakukan oleh KPK," jelasnya.

Lebih lanjut, Noel juga mengatakan OTT adalah kebohongan besar. Sembari memperingatkan KPK untuk tidak membohongi rakyat dan presiden.

"Itu penting harus saya sampaikan ke kawan-kawan bahwa mayoritas yang diteriak-teriakkan OTT oleh KPK, itu bohong besar," ungkap Noel.

Minta dihukum mati

Tidak sampai di situ, Noel bahkan menantang dihukum mati jika dirinya terbukti benar-benar terlibat dalam kasus yang menjeratnya itu. Namun jika tidak, ia harap bisa dihukum seringan-ringannya.

"Kalau saya sih sudah berharap satu. Harapan saya, hukum mati saya. Karena saya komit terhadap isu ini, terkait hukuman mati," ujar Noel.

"Tapi jika tidak, hukum saya seringan-ringannya. Apapun yang namanya korupsi, basisnya pertama kebohongan. Dasar dari korupsi adalah kebohongan," sambungnya.

Meski begitu dirinya masih tetap akan menghormati persidangan karena menghargai pembayar pajak.

Ia pun mengungkit kasus korupsi Mantan Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi yang diberi rehabilitasi dari Presiden RI Prabowo Subianto.

"Karena mereka selalu berbohong framing-nya. Yang dia bohongi itu presiden, yang mereka bohongi itu rakyat. Enggak malu, kasus ASDP. Mereka berpolitik," ujar Noel.

Dalam perkara ini, Noel didakwa melakukan pemerasan terkait pengurusan sertifikasi K3 dengan nilai total Rp6,5 miliar. Ia disebut mendapat uang sejumlah Rp70.000.000,00.

Noel didakwa melanggar Pasal 12 huruf e atau Pasal 12 huruf b juncto Pasal 18 UU Tipikor juncto Pasal 20 huruf c KUHP juncto Pasal 127 ayat (1) KUHP.

Dia juga didakwa menerima gratifikasi Rp3.365.000.000,00 dan satu unit sepeda motor Ducati Scrambler yang diduga diberikan oleh ASN Kementerian Ketenagakerjaan dan pihak swasta.

Noel kemudian juga didakwa melanggar Pasal 12 B juncto Pasal 18 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juncto Pasal 127 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

(fam/dal)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Entertainment |