Jakarta, CNN Indonesia --
Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran berakhir hari ini, Rabu (22/4).
AS dan Iran sebelumnya sepakat gencatan senjata selama dua pekan sejak 7 April hingga 21 April waktu Negeri Paman Sam setelah perang yang dipicu oleh serangan Washington dan Israel sejak 28 Februari lalu.
Kedua pihak sempat melakukan negosiasi untuk menghentikan perang yang dimediasi oleh Pakistan di Islamabad. Namun, kedua negara sama-sama belum mencapai kesepakatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihak Washington kemudian mewacanakan negosiasi lanjutan di Pakistan untuk mencapai kesepakatan. Namun, Iran menolak untuk kembali mengirimkan delegasi ke Islamabad.
Alasannya, Iran tidak akan melakukan negosiasi jika AS masih melakukan blokade di depan Selat Hormuz. Teheran kembali membuka Selat Hormuz untuk pelayaran komersial pada Senin (20/4) waktu setempat.
Namun, AS masih tak bersedia mencabut blokade atas jalur penting bagi pasokan minyak dunia tersebut. Trump menegaskan AS akan terus memblokade Selat Hormuz jika Iran ogah diajak berunding lagi.
Pada Selasa (21/4), Trump sendiri sempat menegaskan tidak akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Bos Partai Republik itu bahkan mengancam akan membombardir Iran secara habis-habisan jika tenggat gencatan senjata selesai dan Teheran bersikeras ogah negosiasi lanjutan.
"Maka banyak bom akan mulai meledak [di Iran usai gencatan senjata]," ujar Trump dalam wawancara dengan PBS News.
"Saya tidak tahu. Maksud saya, mereka [perwakilan Iran] seharusnya hadir. Kami setuju untuk hadir, meskipun mereka mengatakan kami tidak setuju. Tapi tidak, itu sudah diatur. Dan kita akan lihat apakah mereka hadir atau tidak. Jika mereka tidak hadir, itu juga tidak apa-apa," ucap Trump.
Namun, beberapa jam sebelum Selasa berakhir, Trump mendadak mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Pengumuman ini juga muncul beberapa jam sebelum gencatan senjata selama dua pekan sejak 8 April antara AS-Iran akan berakhir pada Rabu (22/4).
Melalui kicauan di Truth Social pada Selasa malam waktu AS, Trump memperpanjang gencatan senjata dengan alasan AS mau memberikan waktu bagi para pimpinan Iran merampungkan proposal perundingan yang ia klaim sedang terpecah.
Trump mengeklaim perundingan putaran dua AS-Iran tak terlaksana sesuai rencana lantaran konflik internal Iran. Ia turut mengeklaim perpanjangan masa gencatan ini juga atas permintaan Pakistan selaku mediator.
"Berdasarkan fakta bahwa Pemerintah Iran saat ini mengalami perpecahan serius, sesuatu yang tidak mengejutkan, serta atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami diminta menunda serangan terhadap Iran sampai para pemimpin dan wakil mereka dapat menyusun proposal yang terpadu," kata Trump.
Dikutip Al Jazeera, keputusan Trump ini juga muncul ketika Gedung Putih menyatakan Wakil Presiden JD Vance tidak jadi berangkat ke Pakistan. Padahal, sebelumnya, Gedung Putih telah mengonfirmasi bahwa Vance bakal bertolak ke Islamabad pada Selasa untuk memimpin delegasi AS dalam putaran kedua perundingan damai dengan Iran.
Lebih lanjut, Trump memastikan AS tetap menerapkan tekanan maksimal bagi Iran selama perpanjangan gencatan senjata berlangsung sampai tenggat waktu yang belum ditentukan.
Ia menuturkan AS akan tetap menerapkan blokade laut bagi Iran selama perpanjangan gencatan senjata.
"Karena itu, saya telah memerintahkan militer kami untuk melanjutkan blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siap serta mampu bertindak. Saya juga akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal tersebut diajukan dan pembahasan selesai, apa pun hasil akhirnya," ucap Trump.
Di sisi lain, Iran berulang kali menegaskan perundingan lanjutan tidak akan pernah terjadi sampai AS mencabut blokade laut terhadap negaranya.
Iran: perpanjangan gencatan tipu daya AS
Iran menyebut perpanjangan gencatan senjata tidak ada artinya. Teheran malah menuduh perpanjangan gencatan hanya tipu daya AS untuk mengulur waktu mempersiapkan serangan dadakan ke Iran.
Penasihat Ketua Parlemen Iran,Mahdi Mohammadi, bahkan menilai alasan Trump memperpanjang gencatan senjata untuk memberi waktu Teheran merampungkan proposal perundingan hanya lah bualan belaka.
"Selain itu, perpanjangan gencatan senjata oleh Trump jelas merupakan tipu daya untuk membeli waktu demi melancarkan serangan mendadak. Saatnya Iran mengambil inisiatif," ucap Mohamma di dalam pernyataan yang diterjemahkan dan diunggah melalui media sosialnya seperti dikutip Al Jazeera, Rabu (22/4).
Mohammadi juga menilai Trump telah kalah pertempuran lantaran Iran tak langsung manut pada ajakan AS untuk berunding begitu saja.
Ia juga menilai blokade laut hingga penyitaan kapal Iran yang dilakukan AS sama saja dengan berperang.
"Pihak yang kalah tidak bisa mendikte syarat. Kelanjutan pengepungan tidak berbeda dengan pengeboman dan harus dibalas dengan respons militer," ujar Mohammadi menambahkan.
(bac/rds)
Add
as a preferred source on Google











































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5478359/original/064555900_1768899201-_ARM7685.jpeg)




