Tak Cuma Capek, Ini 6 Penyebab Burnout di Kantor yang Jarang Disadari

2 hours ago 7

CNN Indonesia

Rabu, 22 Apr 2026 09:45 WIB

Rasa burnout di kantor tak cuma disebabkan rasa lelah. Ada banyak penyebab burnout lainnya di kantor yang jarang disadari. Ilustrasi. Ada banyak penyebab burnout lainnya di kantor yang jarang disadari. (iStock/Edwin Tan)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Merasa lelah secara emosional, kehilangan motivasi, hingga mulai tidak peduli dengan pekerjaan bisa menjadi tanda burnout. Kondisi ini sering kali muncul perlahan, dipicu oleh tekanan kerja sehari-hari yang terus menumpuk tanpa disadari.

Burnout bukan sekadar soal tidak mampu bekerja dengan baik atau kurang berusaha. Kondisi ini lebih sering dipicu oleh masalah di tempat kerja mulai dari beban kerja berlebih hingga lingkungan yang tidak mendukung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menukil dari American Psychological Association, burnout di tempat kerja adalah sindrom yang berkaitan dengan pekerjaan yang diakibatkan oleh stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola.

Mengutip dari Your Tango, psikolog di Berkeley, Christina Maslach menjelaskan bahwa burnout terjadi ketika tuntutan kerja terus menerus melebihi kapasitas seseorang tanpa memberi ruang untuk pemulihan. Akibatnya, seseorang bisa merasa kelelahan, sinis, dan kehilangan semangat dalam pekerjaannya.

Berikut merupakan beberapa penyebab burnout yang paling umum terjadi di tempat kerja.

1. Beban kerja berlebihan

Tuntutan pekerjaan yang terus meningkat tanpa diimbangi waktu istirahat dapat membuat seseorang kelelahan secara fisik dan mental. Bukan hanya soal banyaknya tugas, tetapi juga kompleksitas pekerjaan yang semakin tinggi.

Jika kondisi ini berlangsung lama tanpa jeda, tubuh dan pikiran tidak memiliki waktu untuk pulih. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan produktivitas sekaligus berdampak pada kesehatan.

2. Kurang kendali atas pekerjaan

Kurangnya kendali dalam pekerjaan juga dapat memicu burnout. Ketika karyawan merasa tidak dipercaya untuk mengambil keputusan, hal ini dapat mengikis rasa percaya diri dan kepuasan kerja.

Mengutip dari Greater Good, studi menunjukkan bahwa kendali diri sendiri di tempat kerja penting untuk kesejahteraan dan pengawasan yang berlebihan sangat menurunkan motivasi karyawan.

Sebuah studi dari Swedia menemukan bahwa karyawan yang memiliki lebih banyak kendali atas cara mereka melakukan pekerjaan mereka cenderung lebih sehat, kurang depresi, dan lebih jarang sakit.

3. Merasa tidak dihargai

[Gambas:Video CNN]

Burnout juga bisa muncul ketika seseorang merasa usahanya tidak dihargai, baik secara finansial maupun emosional. Hal ini termasuk dengan gaji yang tidak sepadan, kurangnya pengakuan, atau pekerjaan yang tidak bisa memberikan kepuasan pribadi.

Kondisi ini juga dapat membuat seseorang kehilangan motivasi, bahkan merasa terlepas dari pekerjaan yang dijalani.

4. Hubungan sosial yang buruk

Lingkungan kerja yang tidak suportif atau kurangnya hubungan sosial dapat mempercepat munculnya burnout. Ketika hubungan dengan rekan kerja atau atasan tidak harmonis, rasa memiliki terhadap tempat kerja pun menjadi berkurang.

Menurut laporan dari U.S. Surgeon General, koneksi sosial dan rasa kebersamaan merupakan faktor penting dalam menjaga kesehatan mental pekerja.

5. Lingkungan kerja yang tidak adil

Ketidakadilan di tempat kerja baik dalam pembagian tugas, peluang, maupun perlakuan dapat memicu stres berkepanjangan. Rasa tidak dihargai dan diperlakukan tidak adil bisa mengikis kepercayaan.

Beberapa studi bahkan menunjukkan bahwa persepsi ketidakadilan di tempat kerja berkaitan dengan peningkatan risiko masalah kesehatan.

6. Pekerjaan bertentangan dengan nilai pribadi

Burnout juga bisa terjadi ketika nilai pribadi seseorang bertentangan dengan budaya atau pekerjaan di tempat kerja. Misalnya, ketika seseorang merasa harus mengorbankan prinsip demi memenuhi tuntutan pekerjaan.

Kondisi ini jika dibiarkan dapat menggerus harga diri dan mempercepat kelelahan secara emosional.

Burnout tidak hanya berdampak pada performa kerja, tetapi juga kesehatan secara keseluruhan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi kehidupan pribadi, hubungan sosial, hingga kesejahteraan mental.

Dengan mengenali pemicu, seseorang dapat mulai mencari cara untuk menetapkan batasan, membangun keseimbangan, dan menjaga kesehatan diri dalam pekerjaan.

(nga/asr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Entertainment |