Ilmuwan Ungkap Benua Afrika Terbelah Lebih Cepat, Tak Bisa Dihentikan

7 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Para ahli geologi menemukan benua Afrika akan terbelah menjadi dua bagian lebih cepat. Proses terbelahnya benua ini sudah lebih jauh dari yang diperkirakan ilmuwan, dan prosesnya tak bisa dihentikan lagi.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications mengungkap bahwa kerak Bumi di pusat Retakan Turkana, kawasan yang membentang di Kenya dan Ethiopia, kini ketebalannya hanya sekitar 13 kilometer. Angka itu jauh lebih tipis dibandingkan bagian tepi rift yang masih lebih dari 35 kilometer.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami menemukan bahwa retakan di zona ini lebih maju, dan keraknya lebih tipis, dari yang pernah disadari siapa pun," kata Christian Rowan, peneliti dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, sekaligus penulis utama studi ini, melansir Science Alert, Jumat (1/5).

Ketika kerak di zona retakan menipis hingga di bawah 15 kilometer, ia memasuki fase yang disebut necking, tahap kritis sebelum benua benar-benar terpisah dan samudra baru terbentuk.

"Semakin tipis keraknya, semakin lemah ia, dan itu justru mendorong retakan terus berlanjut," ujar Rowan.

Retakan Turkana adalah satu-satunya retakan aktif di Bumi yang saat ini tengah mengalami fase necking. Proses pemisahan ini bermula sekitar 45 juta tahun lalu, dipicu oleh pergerakan lempeng Afrika dan Somalia yang saling menjauh dengan kecepatan sekitar 4,7 milimeter per tahun.

Dalam beberapa juta tahun ke depan, retakan ini akan memasuki fase berikutnya: oseanisasi. Pada fase ini, kerak Bumi akan meregang begitu tipis hingga magma meletus dari bawahnya, membentuk cekungan yang kelak menjadi dasar laut baru seiring masuknya air dari Samudra Hindia.

Proses serupa sudah mulai terjadi di Cekungan Afar yang terletak di timur laut Afrika dekat Laut Merah.

Untuk memahami konteksnya, susunan benua di Bumi saat ini terasa konstan, padahal mereka selalu bergerak, meski sangat lambat. Lebih dari 200 juta tahun lalu, seluruh daratan menyatu dalam satu superbenua.

Menurut para ilmuwan, di masa depan sebagian besar benua diprediksi akan kembali bersatu. Ketika dua lempeng tektonik bertemu, pegunungan terbentuk dan ketika mereka menjauh, lautan tercipta.

Sistem Retakan Afrika Timur adalah contoh nyata skenario kedua. Lempeng Afrika saat ini sedang terbelah menjadi dua: lempeng Nubia yang masif di sebelah barat, mencakup sebagian besar benua; dan lempeng Somalia yang lebih kecil, mencakup sebagian besar pesisir timur dan Pulau Madagaskar.

Untuk studi ini, para ilmuwan memfokuskan perhatian pada Retakan Turkana dan menganalisis data seismik yang sebelumnya diambil di kawasan tersebut.

Temuan ini semakin menarik karena implikasinya bagi sejarah manusia. Kawasan Retakan Turkana selama ini dikenal kaya akan fosil hominin awal dan dianggap sebagai lokasi penting dalam evolusi manusia.

Namun yang mengejutkan, fase necking yang dimulai sekitar 4 juta tahun lalu bersamaan persis dengan usia fosil hominin tertua yang ditemukan di kawasan itu. Bagi para peneliti, ini bukan kebetulan.

"Kebetulan waktu antara transisi tektonik ini dan munculnya lapisan fosil yang tebal dan berkelanjutan menunjukkan bahwa fase necking menyediakan kondisi kritis bagi pelestarian fosil," tulis para peneliti dalam studinya.

"Kami mengusulkan bahwa perubahan tektonik ini memainkan peran mendasar dalam membentuk catatan paleoantropologi luar biasa di Kawasan Retakan Turkana," lanjutnya.

(dmi/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Entertainment |