Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah menerapkan kerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) satu hari seminggu setiap Jumat.
Hal itu dilakukan untuk efisiensi energi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel.
"Penerapan WFH bagi ASN di pusat dan daerah, satu hari kerja dalam seminggu yaitu setiap Jumat yang diatur dalam Surat Edaran Menpan RB dan SE Mendagri," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Seoul, Korea Selatan, Selasa (31/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Airlangga memperkirakan kebijakan tersebut dapat menghemat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Rp6,2 triliun.
Sejalan dengan hal itu, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli juga mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk menerapkan WFH sehari dalam sepekan.
"Pimpinan swasta, BUMN, dan BUMD diimbau menerapkan WFH bagi pekerja selama 1 hari 1 minggu sesuai kondisi perusahaan dan jam kerja WFH diatur perusahaan," ujar Yassierli dalam konferensi pers, Rabu (1/4).
Adapun untuk pelaksanaan WFH diterapkan sesuai ketentuan perusahaan baik terkait ketentuan upah gaji dan hak-hak lainnya. Selain itu, Yassierli menekankan WFH tidak akan mengurangi jatah cuti tahunan pekerja.
Ia menjelaskan kebijakan WFH yang diimbau satu hari dalam sepekan tetap harus memperhatikan kelangsungan operasional perusahaan serta pelayanan publik.
Lantas, bagaimana respons dari pekerja di pemerintahan atau pegawai negeri sipil (PNS) maupun perusahaan swasta terhadap kebijakan WFH tersebut?
Fitri, seorang PNS di Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pusat mengaku senang dengan kebijakan WFH.
Skema itu, menurut Fitri, membuat kerjanya menjadi lebih fleksibel karena ia tidak perlu berangkat dari kos ke kantor di tengah kemacetan Jakarta.
"Saya sebenarnya senang-senang aja sih kalau WFH ya karena bisa lebih fleksibel aja, karena kan di kosan nggak perlu berangkat-pulang di tengah kemacetan Jakarta," ujar Fitri saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (2/4).
Namun, Fitri mengakui biaya hidup selama WFH cenderung meningkat di tempat kos. Pasalnya, penggunaan listrik menjadi lebih tinggi karena AC dan peralatan elektronik lainnya menyala hampir sepanjang hari, terutama dari pagi hingga sore saat ia beraktivitas.
"Cuman mungkin cost living-nya memang kayaknya lebih banyak di kosan sih, karena kan biasanya listrik, AC dalam sehari itu kalau dari jam 7 sampai jam 5 sore itu kan lumayan ya kalau AC sama listrik full nyala terus," ceritanya.
Ia menilai produktivitas kerjanya relatif tidak mengalami perubahan selama WFH karena sebagian besar koordinasi di tingkat pusat memang telah dilakukan secara digital, terutama dengan kantor wilayah.
Fitri juga menyampaikan komunikasi pun tetap berjalan lancar karena sudah terbiasa memanfaatkan platform rapat daring, seperti Zoom dan Google Meet.
"Untuk produktivitas sebenarnya sama aja sih, karena kami di pusat itu kebanyakan koordinasinya itu melalui digital ya, digitalisasi terutama ke kanwil-kanwil. Terus komunikasi juga selama ini nggak terhambat sih, karena udah terbiasa juga rapat melalui Zoom, melalui Google Meet. Jadi oke-oke aja kalau untuk produktivitas," kata Fitri.
Sementara itu, seorang karyawan di salah satu perusahaan swasta di Jakarta bernama Alya yang berdomisili di Bekasi menilai dengan adanya kebijakan WFH produktivitasnya cenderung meningkat. Hal tersebut karena tenaga dan waktu yang biasa ia pakai untuk mobilisasi dari rumah ke kantor bisa dipakai untuk beristirahat lebih lama atau berolahraga.
"Justru kalo ngomongin produktivitas malah jadi naik karena waktu commute bisa dipakai buat yang lain kayak olahraga atau tidur lebih lama," cerita Alya.
Alya pun mengungkapkan dengan adanya WFH, biaya transportasi harian sekitar Rp50 ribu dapat dihemat dan dialokasikan untuk kebutuhan lain, seperti mengikuti kelas yoga yang ia sukai.
"Kalo pas WFH justru uang lebih hemat sih, karena sebenarnya kerja enggak harus di cafe kan. Malah masih ada spare uang untuk beli kelas yoga hehe,' imbuhnya.
Meski begitu, ia mengakui bahwa WFH juga meningkatkan biaya energi, seperti listrik. Lampu dan AC yang biasanya dimatikan saat ia bekerja di kantor, justru menyala sepanjang hari di rumah.
"Paling yang jadi pertimbangan AC yang tadinya mati pas kita ngantor, jadi nyala seharian pas kita kerja," terang Alya.
(fln/sfr)
Add
as a preferred source on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5440135/original/042410700_1765423920-IMG-20251210-WA0008.jpg)


















