CNN Indonesia
Jumat, 16 Jan 2026 09:30 WIB
Pemandangan dari atas bukit di Pulau Padar, Labuan Bajo, NTT. (CNN Indonesia/Anugerah Perkasa)
Manggarai Barat, CNN Indonesia --
Selat Padar, jalur pelayaran wisata terkenal yang memisahkan Pulau Padar dan Pulau Rinca di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK), memang tak lekang oleh waktu dengan keindahannya.
Namun kini, kawasan yang menjadi akses penting menjelajahi salah satu Situs Warisan Dunia itu juga menyimpan kenangan tragis setelah kapal wisata KM Putri Sakinah tenggelam.
Sebagai pulau terbesar ketiga di TN Komodo, Pulau Padar punya daya tarik spesial yang membuatnya dikenal hingga mancanegara.
Ada bukit yang menyuguhkan panorama memukau seluruh perairan sekitar beserta pulau-pulau kecil di sekelilingnya.Tak ketinggalan pantai berpasir merah muda atau pink beach, salah satu destinasi wisata alam paling hits di Indonesia Timur.
Sayangnya, pada 26 Desember 2025, suasana di kawasan itu seakan menjadi suram. Kapal wisata jenis pinisi KM Putri Sakinah yang tengah melayani jalur wisata Komodo, tiba-tiba mengalami kesulitan mati mesin dan tenggelam tepat di perairan Selat Padar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Insiden itu menyebabkan korban jiwa, di antaranya ada 4 warga negara asing asal Spanyol yang tengah menikmati liburan di sana.
Kondisi perairan yang semakin tidak menentu juga menjadi kekhawatiran warga lokal (warlok). Kasmirwan, warga Kampung Rinca Desa Pasir Panjang, yang sudah bertahun-tahun bergantung pada laut untuk nafkah dan transportasi, mengaku khawatir.
"Belakangan ini cuaca ekstrim sering terjadi di sekitar Selat Padar dan perairan Rinca. Gelombang bisa tiba-tiba tinggi hingga lebih dari 2 meter, bahkan saat prakiraan cuaca bilang aman," ungkap Kasmirwan kepada CNNindonesia.com, Kamis (15/1).
"Banyak dari kita yang sedang bekerja sebagai sopir boat ojek atau nelayan kesulitan keluar laut kalau tidak bisa berlayar, kita tidak punya penghasilan sama sekali," lanjutnya.
Ia juga menuturkan, akses ke daratan seperti Labuan Bajo untuk membeli kebutuhan pokok atau mencari bantuan kesehatan sering terganggu karena kondisi laut yang buruk.
"Kita harap pihak berwenang tidak hanya memperhatikan keselamatan kapal wisata besar, tapi juga memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan kami warga lokal yang bergantung penuh pada laut ini," pungkasnya.
(lou/wiw)




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354665/original/013548500_1758261702-IMG-20250919-WA0005.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354825/original/018518100_1758265848-pongki_barata_csm_3.jpg)










